Momentum Kejayaan Islam (1428 H)

Derajat syukur orang itu harus ditingkatkan. Ada tiga bentuk syukur yang disodorkan yakni didalam hati, dilidah dengan memuji Tuhan, dan tindakan menunaikan hukum Tuhan. Tahapan terakhirr syukur adalah refleksi dari rasa terima kasih. Demikian tulis Dr. Annemarie Schimmel, profesor studi Islam dari Universitas Marburrg dan Harrvard, mengomentari karya Muhammad Ibn ‘Abbad, “Surat-surat Sang Sufi”. Buku yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, dikomentai sangat positif seorang pastorr, dan dikagumi oleh universitas besar di dunia, menawarrkan konsep syuku dalam kehidupan yang begitu indah. Memang, Muhammad Ibn ‘Abbad seorang sufi besar berjubah kerendahan hati, selalu menasehatkan kepada murrid dan sahabatnya agar tetap bersyukur terhadap sesuatu yang terjadi. Konsep syukur inilah yang masih relevan pada saat kekinian, ketika negeri tercinta didera musibah, diamuk badai, digulung gelombang, diterjang banjir, disembur lumpurr, tenggelam, pesawat jatuh, dan ditimpa berbagai cobaan lainnya. Langkah yang paling bijak dan layak kita lakukan adalah bercermin dan melakukan introspeksi. Karena bisa jadi, begitulah cara Allah menuntun kita untuk kembali ke koridor kehidupan yang Dia inginkan.

Cukup lama para pendidik spiritual selalu mengajak kita melakukan “muhasabah”, atau perhitungan terhadap dirri sendiri. “Muhasabatun-nafs” adalah melihat dan menghitung apa yang telah dilakukan diri sendiri, baik yang sudah maupun yang belum. Menurut Murthada Mutahhari dalam “jejak-jejak Rohani” , pandangan perhitungan terhadap dii hanya berlaku bagi orang-orang sufi, orang yang melakukan mujahadah dan sayr wa suluk”, sementara masyarakat umum tidak, adalah keliru. Al Quran justru yang pertama sekali memerintahkan perhitungan terhadap diri. Meminjam istilah Kahlil Gibran, beberapa pertanyaan dalam perenungan introspoeksi, adalah apabila kita seorang politikus yang menanyakan apa yang dapat dibuat negara untuk kita? Atau seorang yang taat yang menanyakan apa yang dapat kita buat untuk negara? Kalau kita yang pertama kita adalah parasit, sedangkan kalau kedua, kita ibarat oase digurun pasir. Apakah kita pedagang yang memanfaatkan monopoli guna memperoleh keuntungan maksimal? Atau orang yang tulus, pekerja keras, dan mengambil keuntungan wajar sebagi perantara antara persediaan dan penawaran? Kalau yang pertama, maka kita adalah penjahat, sekalipun tinggal di istana ataupun di penjara. Sedangkan kalau kedua, kita orang beramal, entah disyukuri,atau tidak diakui oleh rakyat. Dimana posisi kita berada dalam proses pembangunan negeri ini? Baik sebagai elite yang memberikan arah dan warna pembangunan negeri ini, atau rakyat jelata yang menunggu nasib? Mungkin di mata manusia, kita sudah menjadi seorang yang jujur, bijak, zuhud, alim, sabar, amanah, istiqomah. Tetapi benarkah nilai tersebut sama dengan kriteria dimata Allah? Bisa jadi “judisium” yang kita terima justru sebaliknya, yakni sebagi pemuja dunia yang memberhalakan harta, atau seorang munafik yang berjubah agama.

Kehidupan saat ini adalah kehidupan yanag begitu kering dengan nilai-nilai spiritual. Agama cenderung dijadikan pelarian….#OP190107B#

Soeroso Dasar, Peneliti Senior PPKSDM Lemlit Unpad. Aktif menjadi penasehat Majlis Dzikir dan Do’a Masjid Nurul Qolbi Kota Bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s