Bangsa Besar

Indonesia ini sebuah bangsa yang besar. Besar dalam ukuran wilayahnya yang seluas Eropa atau Amerika. Besar dalam jumlah kekayaan alamnya. Besar dalam sejarahnya. Namun kita tidak menjadi bangsa besar akibat kekerdilan jiwanya.

Jumlah penduduknya yang banyak dan wilayah yang luas dan subur, kalau didayagunakan dengan tepat tentu akan menjadi sebesar Amerika. Yang terjadi adalah bahwa bangsa ini, sejak kemerdekaan, menempati urutan bawah dari bangsa-bangsa yang terbentuk kurang lebih dalam waktu yang sama.

Indonesia tidak berdaya menopang dirinya sendiri untuk berdiri. Kekuatannya masih harus ditunjang bangsa-bangsa lain. Semua ini akibat mentalitas para pimpinan bangsanya yang kroco jiwa alias kerdil. Bangsa besar secara kuantitas menjadi kerdil secara kualitas akibat kekerdilan para pemimpinnya.

Para pemimpin bangsa ini menunjukkan kualitas primanya pada masa pergerakan nasional di zaman kolonial. Para pemimpin itu rela mengorbankan kepentingan diri, kepentingan keluarga, dan kepentingan kelompoknya demi tercapainya pembebasan bangsa dari penjajahan.

Jiwa-jiwa besar dan militan inilah yang membuat Indonesia yang tadinya terpecah belah secara primodial menjadi bersatu sebagai satu bangsa. Kesatuan bangsa ini tergantung dari kasatuan para pemimpinnya. Kesatuan ini bukan karena ideologi politiknya dilebur sekecil-kecilnya, tetapi karena sikap inklusif para pemimpinnya yang bersemboyan : kepentingan partai dan golongan saya tinggalkan kalau kepentingan nasional menuntutnya.

Bangsa besar yang kerdil ini terus berlangsung karena para pemimpinnya lebih bersemboyan sebaliknya : kepentingan nasional nomor dua setelah kepentingan golongan dan pribadi. Lebih celaka lagi kepentingan pribadi dan keluarga yang utama, golongan yang kedua dan nasional yang ketiga. Bangsa dan negara ini boleh bubar, yang penting saya dan keluarga selamat. Bangsa dan negara ini hanya kuda tunggangan atau sapi perahan untuk tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran.

Kepentingan besar dan nasional di zaman kolonial berubah menjadi sempit dan sektarian di zaman kemerdekaan. Dalam masa perang kemerdekaan saja sudah muncul kepentingan-kepentingan sempit sesaat. Sejarah revolusi Indonesia dipenuhi dengan intrik-intrik kekuasaan di kalangan para pemimpinnya. Dalam waktu lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan, berapa kali terjadi perebutan kekuasaan di antara para elit politik,militer, golongan? Setelah revolusi selesai tahun 1950, maka perebutan kekuasaan semakin menjadi-jadi, bukan hanya di pusat pusat kekuasaan tetapi juga di daerah-daerah. Separatisme daerah selalu dimulai dengan adanya gejala kepentingan sempit di pusat kekuasaan.

Bagaimana bangsa ini dapat membangun dirinya sendiri kalau para pemimpin sibuk membangun dirinya dan keluarganya belaka? Lantas apa tujuan membebaskan diri dari penjajahan? Karena iri hati terhadap kemakmuran para penjajah yang notabene adalah para penguasa atau “pemimpin bangsa” pada zamannya? Apakah bedanya para pemimpin negara dan bangsa zaman kolonial dan pasca kolonial? Bukankah para pejabat kolonial itu lebih makmur hidupnya dari rakyat Indonesia yang diperintah? Bukankah pemandangan demikian itu masih hadir sekarang ini juga? Kalau dahulu para gubernur, residen (bupati), asisten residen, dan para pejabat teras di Batavia kaya raya, bukankah sekarang masih tetap demikian. Rakyat dan bangsa ini tetap terjajah meskipun telah tercapai kemerdekaan. Penjajahnya adalah “Belanda item”.

Para pemimpin bangsa yang sejati hanya terdapat pada masa pergerakan di awal abad 20 sampai pertengahan abad itu. Mereka tokoh-tokoh besar dengan jiwa besar. Pikiran dan tindakan mereka hanya satu fokusnya, yakni demi bangsa yang besar ini. Mereka berpikiran bahwa Indonesia akan menjadi bangsa besar karena para pemimpin akan berlaku seperti mereka, yakni berwawasan kepentingan luas.

Para pejabat Belanda kolonial dahulu merasa bangga dan berbeda dengan rakyat jajahannya. Mereka berkuasa dan karenanya lebih kaya dan lebih makmur. Gaji mereka berbeda dengan gaji pejabat pribumi. Mentalitas kolonial inilah yang rupanya tetap dilestarikan oleh pejabat-pejabat bangsa setelah kemerdekaan. Jiwa besar kaum pergerakan menjadi jiwa kerdil setelah kemerdekaan karena tetap bermental kolonial.

Indonesia akan sudah lama menjadi bangsa yang benar-benar besar kalau jiwa pergerakan itu tetap diwarisi dan dilestarikan. Menjadi pemimpin bangsa itu siap menderita karena gaji kecil tak seimbang dengan tugasnya, siap menelantarkan keluarganya, siap tidak populer, siap gugur dalam menjalankan tugas. Semua itu terjadi karena beban dana dan beban tujuan pembangunan bangsa tidak seimbang. Dana yang kecil harus dipakai sepenuhnya untuk pembangunan bangas. Dan dana pinjaman yang cukup juga harus dipakai sepenuhnya demi pembangunan.

Tetapi bangas ini tetap kerdil, miskin, dan semakin terpuruk akibat mental kolonial masih berlaku. Ke mana larinya kekayaan bangsa ini? Kalau di zaman kolonial ada bank-bank nasional Belanda. Kini ada di bank-bank atas nama rekening pribadi. Kekayaan bangsa ini terlipat dalamrekening-rekening para pemimpinnya. Semakin kaya semakin bangga seperti para pensiuanan pejabat kolonial dahulu kala.

Bangsa-bangsa besar memiliki pemimpin-pemimpin besar. Pemimpin besar bermoral besar. Dosa seorang pemimpin akan ditanggung oleh rakyatnya. Moral Astabrata para raja Indonesia zaman kuno kiranya masih dapat dijadikan pegangan. Seorang pemimpin itu harus memburu kekayaan bukan untuk dirinya tetapi didermakan kepada kesejahteraan rakyatnya. Seorang pemimpin itu harus bearni, tegas, dan adil tetapi juga penuh kasih sayang dan pengertian pada rakyatnya. Seorang pemimpin itu cerdas dalam pemikirannya, tajam intelektualnya namun sekaligus juga tinggi tingkat spiritual dan hidup emosionalnya. Nilai-nilai ketegasan, keberanian, keadilan, kedermawanan, kerja keras, kasih sayang dan pengertian pada yang dipimpinnya. Itulah nilai-nilai utama ajaran kuno tentang kepemimpinan Indonesia.

Ajaran-ajaran demikian itulah yang membuat bangsa ini memiliki sejarah besar. Kesultanan Aceh, Makassar, Ternate-Tidore, Palembang, Melayu, Sriwijaya, Mataram, Majapahit. Bangsa-bangsa besar memiliki koleksi tokoh-tokoh besar dalam sejarahnya. Sejak kemerdekaan, populasi tokoh-tokoh besar Indonesia ini semakin kurang. Semakin miskin. Dari dua ratus juta bangsa Indonesia ini, coba tunjukan pemimpin besar yang setara dalam sejarah Indonesia dan sejarah pergerakan kita.

Pemimpin kerdil melahirkan bangsa kerdil.

Peminpin besar melahirkan bangsa besar.

Jakob Sumardjo, budayawan, tinggal di Bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s